03
Nov
10

cerpen “dia” hanya untuk ku kagumi

Kriiingg…””Aduh… Bikin kaget aja ni weker !” ku ambil sebuah jam weker berbentuk bola di meja samping tempat tidur. Kugenggam erat dengan telapak tangan kiriku dan kumatikan dengan kasar.”Lama – lama aku bisa kena serangan jantung hanya karena jam bulat ini.!””Kak, subuh – subuh gini kok sudah ngobrol sama jam weker sih? Kakak nggak apa – apa kan?” kata seorang gadis cilik dibalik pintu kamar.”Udah gila aku ! Memang kenapa ?””Hii… Atut…””Ahh, sana – sana ! Dasar bawel !” ucapnya dengan keras pada adiknya .Lisa, nama adikku, berlari meninggalkan kamar sambil cengingisan.Segera aku bergegas masuk kamar mandi. Dihari pertamaku masuk kelas 2 ini, tentunya aku ingin sikapku lebih baik dari tahun lalu.Selesai mengenakan pakaian, segera kusisir rambutku. Dengan tetap menatap wajahku sendiri didepan cermin, aku berkata dalam hati, “Fitri, andai hari ini aku dapat menatap wajahmu, aku tak tahu lagi seperti apa nanti wajahku. Walaupun kini aku berusaha menghafal wajahku sendiri.”Segera kuambil tas sekolahku. Tak lupa kuraih foto wanita yang aku kagumi. Kuperhatikan sejenak wajahnya yang tersenyum manis seakan memberiku harapan besar disuatu hari nanti. Puas memandangi fotonya, segera aku berangkat ke sekolah. ***Di dalam kelas.”Bud, zodiakmu scorpio kan?” tanya teman sebangkuku, Ari sambil menenteng sebuah majalah gosip.”Hmm.” Hanya itu yang keluar dari mulutku. Terus terang saja, aku tak percaya dengan yang namanya ramalan. Karena menurutku manusia tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Hanya Allah-lah yang tahu.
“Wah kebetulan itu. Zodiak kita sama. Aku bacain yah. Scorpio, minggu ini…” begitulah seterusnya. Adi dengan semangat membacakan zodiac. Dan menurut ramalan itu, dewi fortuna akan selalu bersama orang yang memiliki zodiac scorpio.
“Wuih, bagus banget yah ? Moga aja ni ramalan bener,” diraihnya pundakku.
“Iya nggak, Bud ?”
“Yah.. Moga aja beneran.” Jawabku dengan sedikit merasa senang mendengar kalimat yang telah dibaca oleh Adi.
***
Pulang sekolah.
“Sialan ! Pakai bocor segala nih sepeda. Udah jauh dari tambal ban, cuacanya panas lagi !” gerutuku saat mengetahui ban sepedaku kemps. Dan saat kuingat – ingat didekat sini juga nggak ada tukang tambal ban. Terpaksa aku menuntun sepedaku pulang sambil berharap menemukan tambal ban.
Terik matahari yang sangat menyengat tubuhku ini membuat baju yang kupakai menjadi basah karena keringat. Belum lagi rasa dahaga di tenggorokanku.
“Katanya dewi fortuna akan bersamaku. Apaan, Dewi kelas sebelah aja gak kelihatan.” gerutuku dalam hati.
Tiba – tiba pandanganku tertuju pada sosok tua diseberang jalan.“Alhamdulillah…” seruku saat kuketahui orang tua itu adalah tukang tambal ban.
Kuarahkan langkahku menuju tempat tambal ban itu.“Pak mau nambal ban nih.” kataku pada tukang tambal ban itu.
Dia hanya mengangguk dan menyuruhku menunggu sebentar. Kudengar suara cewek yang memanggilku. “Budi ? Kamu Budi kan ?”
Aku menoleh kearah suara itu. “Fitri ?” oh My God… Aku bertemu Fitri hari ini ?! Sungguh aku tidak menyangka dapat bertemu Firi disini.
“Hey ! Kok bengong sih ?” dia kembali mengeluarkan suara yang kurindukan selama ini.
“Eh, nggak. Nggak apa – apa kok. Aku cuma nggak percaya aja bisa ketemu disini.” kataku dengan agak gugup. Kebiasaanku gugup saat bicara dengan Fitri kambuh lagi setelah tujuh tahun lamanya tak pernah seperti ini.
“Kok nggak percaya ? Kenapa?”
“Yah, akhirnya rasa kangenku bisa terobati.” kataku mencoba mengatakan perasaanku yang kupendam selama ini.
“Gombal ! Kamu itu bisa aja ya ?” jawabnya sambil menepuk pundakku. Dia tertawa mendengar perkataanku barusan.
Mungkin baginya ini hanya sebuah bualan anak muda. Tapi bagiku ini murni ungkapan hati. Biarlah sementara keadaaan seperti ini. Yang penting aku dapat kembali menikmati senyum manisnya yang selama ini kurindukan. Dia mengajakku duduk ditempat tadi dia duduk. Kita berdua terlibat obrolan kesana kemari. Sesekali canda tawa mengiringi suasana saat itu. Ternyata dia juga lagi nambal ban. Jadi sepeda yang lagi diperbaiki bapak tadi milik Fitri.
“Eh, kamu pasti haus kan ? Kita beli minuman yuk !” kata Fitri menawarkan minuman. Sebenarnya saat itu aku memang haus sekali. Tapi uang sakuku sudah habis.
“Wadaw, ngomong apa nih ? Es jus lagi ! Uang saku sehari itu.” kataku dalam hati.
“Eh…, gimana yah?” aku bingung banget mau jawab apa.
“Udah gak apa – apa. Aku bayarin kok.” katanya memutus pembicaraanku.
“Tapi kan…”
“Udah.. ayo !” ditariknya tangan kiriku kearah penjual es jus itu. Sungguh malu rasanya. Ini pertama kalinya aku bertemu denagnnya setelah sekian lamanya berpisah. Tapi aku tidak memberikan kesan yang baik. Bukannya aku yang traktir, malah aku yang ditraktir. “Oh no!”
***
Tidak terasa sudah dua hari berlalu. Sejak pertemuanku dengan Fitri tempo hari, aku jadi lebih bersemangat melakukan segala aktifitasku. Sampai – sampai aku mendapatkan nilai yang bagus pada pelajaran Matematika. Pelajaran yang tidak pernah kusukai. Namun kini aku kembali merasakan kesepian. Aku ingin sekali bertemu Fitri lagi. Dan bodohnya aku, kenapa aku tidak meminta nomor Hpnya. Setiap saat aku bisa menghubunginya walau tanpa ketemuan.
“Pokoknya aku harus ketemu Fitri.” Tapi aku harus menemuinya dimana ? Dan apa alasanku kalo sudah ketemu dia?
Ditengah – tengah kebingunganku itu, muncul seorang cewek yang cantik dihadapanku. Dia tidak sendirian. Dia datang dengan sepeda motor metiknya yang berwarna putih.
“Mas, motor Aku ban-nya bocor nih. Dimana ya tukang tambal ban terdekat dari sini ?” tanya cewek itu padaku.
Tambal ban ? Yak, aku harus pergi ke tukang tambal ban waktu itu. Siapa tahu aku bisa ketemu Fitri lagi disana. Yah, walau kesempatan itu cuma 5% ! Cewek ini memberiku jawaban dimana aku harus mencari Fitri.
“Hallow… Mas. Kok bengong sih, Mas ?” kata cewek itu sambil melambai – lambaikan tangannya di depan mataku.
“Eh, sorry Mbak. Mbak nyari tambal ban yah ? Kalo dari sini masih jauh Mbak. Sekitar satu kilo lagi dari sini.”
“Ahhh… masih jauh ya ?” rengek cewek itu karena mungkin kecapekan jalan berduaan sama motornya.
“Gini aja Mbak, kebetulan Aku punya pompa sepeda motor. Gimana kalo ban motor Mbak aku pompa saja biar bisa jalan. Nanti Mbak naikin sambil cari tambal ban, biar nggak tertlalu capek.” kataku memberikan tawaran, dan dia setuju.Segera kupompa motor itu.
“Wah, trims yah Mas uda mau nolongin aku ?” Cewek itupun pergi menjauh dari hadapanku.
***
“Mas, mau nambal ban?”
“Oh, nggak Pak. Saya mau numpang duduk disini. Boleh kan, Pak ?” kataku minta ijin duduk ditempat tunggu orang – orang yang biasanya lagi nambal ban.
Tukang tambal ban itu mempersilahkan aku.
“Sampean temannya Mbak Fitri kan ?” pertanyaan bapak itu mengagetkanku.
“Lho, Bapak kenal Fitri ?” dengan semangatnya aku mencari informasi tentang Fitri ke bapak itu.
“Ya kenal, Mas. Mbak Fitri sekeluarga itu baik banget lho, Mas. Apalagi bapaknya. Walaupun dia seorang polisi, tapi nggak seperti apa yang dikatakan orang tentang kejelekan polisi.
Bapak itu terus bercerita mengenai Fitri sekeluarga. Aku sih enjoy aja jadi pendengar cerita Bapak itu. Karena bapak itu, aku mendapat banyak informasi. Tapi setelah cukup lama aku menunggu Fitri, kuputuskan untuk kembali lagi besok sepulang sekolah.
***
“Udah, Mas. Berapa ?”
“Nomor 4 ya? 3000 Mbak.”
“Ini, mari Mas.”
“Terima kasih ya, Mbak.” kata seorang operator warnet itu pada pelanggannya.
“Fitri ? Kok kamu ada disini ?” aku yang saat itu baru masuk kedalam warnet bertemu dengan Fitri yang sudah mau pulang.
“Eh, Budi… Ketemu lagi… Aku habis basmi virus di HP aku. Kamu sendiri ngapain disini ? Mau ngerjain tugas ta?” tanya Fitri melihat tas yang aku bawa.
“Nggak juga kok. Aku cuma mau ngeprint aja. Eh, kamu mau kemana sekarang ?”
“Mau pulang. Kenapa ?”
“Makan dulu, yuk ? Yah, sebagai permintaan maaf aku.”
“Maaf ? Oh, soal minuman kemarin yah ? Udah, nggak usah dipikirin.”
“Jadi… mau kan makan bareng ? Mumpung aku ada rizky.”
“Iya deh, aku mau. Tapi jangan lama – lama ya. Aku takut pulang terlalu malam.” katanya dengan diiringi senyuman manis. Aku suka itu. Senyumannya membuat aku lebih bersemangat.Malam ini terasa indah bagiku. Aku jadi teringat ramalan bintang yang dibacakan Ari. Katanya keberuntungan akan bersamaku. Mungkin itu benar. Sekarang aku dapat jalan bareng sama Fitri, meski cuma sekedar makan malam saja. Tapi aku percaya, suatu hari nanti Fitri pasti akan jadi milikku.
***
Hari ini, tepatnya Sabtu tanggal 25 April pukul 19.00 di taman depan komplek pertokoan Jl.Pahlawan, merupakan hari yang rasanya tak mungkin bisa kulupakan. Aku janjian sama Fitri mau ketemuan disini.“Wah, boleh juga. Kebetulan aku juga mau kesana.” Begitulah ucapannya saat di telepon. Dan saat ini aku lagi nunggu kedatangan Fitri. Sambil menunggunya, aku mengingat – ingat saran Ari kemarin. Katanya aku harus segera nyatain perasaanku pada Fitri.
“Haii, udah lama ya nunggu ?” tiba – tiba Fitri sudah didepanku. Dia bersama temannya.
“Ya lumayan sih, “ kataku sambil berdiri dari tempat duduk. Kuperhatikan Fitri saat itu kelihatan cantik sekali. Pakaiannya ayng sederhana membuatnya semakin tampak anggun.
“Eh, Mas yang waktu itu nolongin Aku kan ?” teman Fitri mengagetkanku. Dia ngaku pernah aku tolong. Tapi yang mana ya ? Kok aku jadi kayak SuperHero ?
“Oh ya, aku ingat. Yang bannya bocor itukan ?” kataku setelah ingat semuanya. Diapun mengangguk dan tersenyum.
“Eh, kita belum saling kenal kan ? Aku Risa.” diulurkannya tangan kanan yang putih mulus itu.
“Aku Budi.” kujabat tangannya. Terasa halus sekali.
“Oh, jadi kalian sudah pernah ketemu ya ?” seru Fitri,
“Ngomong – ngomong kamu ngajak aku kesini mau ngomong apa ?” pertannyaan Fitri kembali membuatku kaku. Aku mau ngomong tapi ada Risa. Jadi malu aku. Tapi tak apalah, aku harus tetap ngomong.
“Iya, gini… Aku… “ belum selesai ngomong tiba – tiba ada seorang cowok datang menghampiri kami. Cowok itu terlihat keren dengan jaket hitamnya.
“Fit, sorry. Motor aku tadi masih dipakai Ayah. Kelamaan ya nunggunya ?” cowok itu berkata pada Fitri sambil meraih bahu Fitri.
“Gak apa – apa kok, Ndra. Oh ya Ndra, kenalin ini teman aku waktu masih SD.” Fitri memperkenalkanku dengan cowok itu.
“Hendra.”
“Budi.”
“Ini pacar aku, Bud. Aku tadi udah janjian juga mau ke toko baju.” kata – kata Fitri ini seakan – akan bermaksud membunuhku. Jantungku terasa mau putus. Begitu sulit rasanya aku menerima pernyataan Fitri tersebut. Bagaimana tidak, aku detik ini berniat mengungkapkan isi hatiku padanya. Tapi gagal begitu saja.
“Kamu tadi mau ngomong apa, Bud ?” kata Fitri membuyarkan lamunanku.
“Emm, nggak kok. Aku cuma mau bilang terima kasih kamu sudah mau berteman denganku.
“Ya udah kalo gitu, aku sama Hendra kedalam dulu ya. Ris, kamu ikut nggak ?”
“Kalian dulu saja. Nanti aku nyusul.” Risa menunjukkan wajah yang seakan – akan tahu perasaanku.
Mereka berdua masuk ke toko busana. Tangan Hendra masih merangkul Fitri. Ini semakin membuatku sakit hati. Sungguh aku tak rela melihat sang pujaan hati bersama cowok lain.
“Hey udah jangan bengong aja. Entar tambah sakit hati. Mendingan ceritain aja sambil jalan biar nggak terlalu berat bebannya.” Risa menarik tanganku mengajak berpindah dari tempat itu. Dia benar – benar tahu apa yang aku rasakan saat ini. Aku menyetujui ajakannya. Kita jalan bareng tanpa arah. Aku menceritakan perasaanku ke Fitri padanya. Sesekali dia jawab dengan anggukan.
“Ris, kamu percaya ramalan nggak ?”
“Ramalan ? Emm… Aku nggak percaya tuh apa yang namanya ramalan. Emang kenapa sih, kok tiba – tiba nanya ramalan ?”
“Nggak, cuma tanya aja. Aku pernah baca ramalan bintang untuk minggu ini. Katanya minggu ini keberuntungan akan bersamaku. Ternyata semua itu salah.” aku menghentikan langkahku dan bersandar di tembok pertokoan.
“Bud, aku yakin kok. Kamu pasti akan ketemu sama seseorang yang betul – betul ngerti sama kamu. Kamu itu orangnya baik.”Aku tersenyum mendengar kalimat yang baru diucapkan Risa. Mungkin benar apa yang dikatakannya. Suatu hari nanti aku akan bertemu dengan orang yang benar – benar mencintaiku. Walupun aku juga yakin, tak mudah untuk melupakan Fitri. Mungkin aku hanya mampu mengaguminya.


0 Responses to “cerpen “dia” hanya untuk ku kagumi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


it’s me

welcome to my blog
my Name is Tubagus Nab'ul Ma'arif, you can look me. please click on the picture. and i wanna just say " enjoy it " :)

i am on indonesia

change language

Arsip

chat with me



November 2010
S S R K J S M
    Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

page rank

My Popularity (by popuri.us)

Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya

RSS detik.com

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

RSS liputan 6

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Blog Stats

  • 5,839 hits
free counters
Protected by Copyscape Online Plagiarism Detector

blog temen

Software Download Computer Tips
tukar link

tukeran link

  • <a href="https://tubagus85.wordpress.com/" target="_blank"><img class="aligncenter size-full wp-image-666" title="Jul" src="http://images.cooltext.com/1840972.gif" alt="" width="160" height="30" /></a>

%d blogger menyukai ini: